Tabloidinfopolri.id – Suasana penuh haru dan kebanggaan menyelimuti lingkungan belajar di SMKN 2 Bitung, Senin (4/5/26), saat ratusan siswa mengikuti penamatan kelulusan tahun pelajaran 2025/2026.
Momen ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda keberhasilan proses pendidikan yang membentuk karakter, keterampilan, dan kesiapan kerja para lulusan.
Di tengah riuh kebahagiaan, Rusdianto Tioki bersama sang istri, Oktavien Bentelu, tampak khidmat menyaksikan putra mereka, Gabriel Tioki, resmi lulus dari jurusan Alat Berat.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah di Jalan A.A. Maramis No.71, Bitung Barat Dua, Kecamatan Maesa, Kota Bitung ini menjadi saksi perjalanan panjang pendidikan yang penuh perjuangan.
Saat nama Gabriel menjadi salah satu siswa yang lulus dari kejuruan alat berat, raut bangga tak bisa disembunyikan dari wajah orang tuanya.
Rusdianto Tioki, sosok yang tak asing di kalangan wartawan sebagai Ketua organisasi Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Kota Bitung, menegaskan bahwa kelulusan ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar pencapaian akademik.
“Ini bukan hanya tentang kelulusan, tetapi tentang proses, disiplin, dan kerja keras yang sudah dilewati,” ujar Rusdianto dengan suara bergetar.
Beliau yang dikrnal kiprahnya ini juga menyoroti peran strategis pendidikan kejuruan dalam menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi dunia kerja. Menurutnya, lulusan SMK memiliki keunggulan karena dibekali keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri.
“Pendidikan kejuruan seperti di SMK sangat penting. Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung. Ini menjadi bekal kuat untuk masuk ke dunia kerja,” jelasnya.
Rusdianto pun mendorong para lulusan agar memiliki rasa percaya diri terhadap kompetensi yang dimiliki.
“Anak-anak SMK harus percaya diri. Mereka punya keahlian yang jelas dan siap bersaing. Peran orang tua adalah terus memberi dukungan dan arahan,” tambahnya.
Di sisi lain, suasana emosional juga terlihat dari Oktavien Bentelu yang sesekali mengusap air mata haru. Ia menyaksikan langsung putranya menapaki fase baru dalam kehidupan. Gabriel sendiri tampak tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.
“Terima kasih untuk papa dan mama yang selalu mendukung saya sampai di titik ini,” ucap Gabriel singkat.
Penamatan ini menjadi simbol berakhirnya masa pendidikan menengah sekaligus awal perjalanan baru bagi para lulusan. Di balik toga dan senyum yang merekah, tersimpan harapan besar akan masa depan yang lebih cerah.
Momen tersebut kemudian ditutup dengan sesi foto bersama keluarga, yang menjadi simbol keharmonisan, kebanggaan, serta dukungan kuat orang tua dalam setiap langkah pendidikan anak.
(Ran)

