Sekadau~Kabupaten Sekadau~ tabloid info polri.Id. (4/8/2026 ) bukan sekadar nama wilayah yang berdiri megah di tepian aliran Sungai Kapuas, melainkan bukti hidup perjalanan panjang peradaban, perpaduan budaya, dan penyebaran nilai-nilai luhur yang telah terjalin erat sejak ratusan tahun silam.
Menelusuri jejak sejarahnya, nama Sekadau lahir dari dua versi cerita yang hidup dan melekat kuat di lidah masyarakat setempat, menyimpan kisah asal-usul yang tak terpisahkan dari alam dan budaya leluhur,
Asal Usul Nama Sekadau
Ada dua versi cerita yang menjadi asal mula nama wilayah ini, Versi pertama menyebutkan nama Sekadau diambil dari sejenis pohon kayu keras yang seratnya sekuat belian atau kayu besi yang disebut Batang Adau.

Pohon ini dulunya tumbuh sangat lebat di sekitar muara sungai wilayah ini, dan seiring berjalannya waktu, lidah masyarakat setempat melafalkannya menjadi Sekadau,
Sementara versi kedua, berasal dari cerita lisan turun-temurun suku Dayak Mualang, Ketika rombongan Patih Bangi pertama kali tiba di wilayah ini, mereka melihat pemandangan dan tempat yang sama sekali baru, lalu berseru “Baru Adau” yang memiliki arti baru melihat,Ucapan itu terus terulang, melekat, dan akhirnya menjadi nama Sekadau yang kita kenal hingga hari ini.
Awal Mula Berdirinya Kerajaan
Sekitar tahun 1600-an, cikal bakal kekuasaan di tanah ini dimulai ketika Pangeran Engkong mendirikan Kerajaan Sekadau, Perjalanan kekuasaan kemudian berlanjut ke masa Pangeran Suma, di mana pusat kerajaan dipindahkan ke lokasi yang lebih strategis, di i bawah kepemimpinannya pula, ajaran Islam mulai tumbuh subur dan menyebar dengan pesat, menyatu harmonis dengan kehidupan serta budaya masyarakat setempat,
Masa Keemasan Kesultanan
Perjalanan sejarah mencapai babak yang sangat penting pada masa Sultan Anum Muhammad Kamaruddin atau yang lebih dikenal dengan sapaan Abang Todong.
Beliau memerintah sekitar tahun 1830 hingga 1861, sebagai putra mahkota sekaligus penerus langsung Pangeran Suma Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Kusuma Negara Sekadau resmi berstatus sebagai Kesultanan, Pusat pemerintahan pun dipindahkan ke Sungai Barat, dan ajaran Islam disebarkan secara lebih luas ke seluruh pelosok wilayah kekuasaan
Namun di masa ini pula, hubungan dengan pihak kolonial Belanda mulai memanas. Kecurigaan yang mendalam dan semangat menjaga kedaulatan mulai tumbuh, menjadi tanda nyata bahwa pemimpin beserta masyarakat Sekadau tak akan mudah menyerah pada tekanan asing. Jejak perjuangan masa itu masih bisa disaksikan hingga kini, salah satunya melalui meriam-meriam kuno peninggalan kerajaan yang masih terjaga di area makam sebagai saksi bisu keteguhan leluhur.
Pergantian Penerus Tahta
Setelah masa kekuasaan Sultan Anum berakhir, tampuk pemerintahan diteruskan oleh putra-putra beliau dari para istri. Sultan Mansyur Kusuma Negara memegang kendali pemerintahan pada tahun 1861 hingga 1867. Selanjutnya digantikan oleh Panembahan Gusti Mekah Kusuma Negara yang memimpin dari tahun 1867 hingga 1902. Pada masa jabatan inilah, gelar kepala kerajaan kembali diubah menjadi Panembahan, menandai babak baru dalam dinamika pemerintahan di tanah Sekadau.
Menghormati Warisan Leluhur
Sebagai wujud penghormatan yang mendalam terhadap jejak sejarah dan perjuangan para pendahulu, Kepala Perwakilan Wilayah Kalimantan Barat Media Informasi Polri, Joni Patikawah melakukan kunjungan ziarah ke makam Almarhum Sultan Anum Muhammad Kamaruddin (Abang Todong). Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bukti nyata komitmen untuk menjaga, melestarikan, dan mengingat kembali nilai-nilai luhur kepemimpinan, persatuan, serta semangat cinta tanah air yang ditunjukkan para leluhur Kesultanan Sekadau,
Jejak perjalanan sejarah ini mengingatkan kita dengan tegas: apa yang ada di Kabupaten Sekadau hari ini adalah buah dari perjuangan panjang, persatuan, dan warisan luhur leluhur yang telah menjaga wilayah ini dari masa ke masa. Sejarah bukan sekadar catatan mati tentang masa lalu, melainkan cermin hidup yang mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga persaudaraan Kita antar bersama dan menjaga wilayah kira dengan nilai-nilai mencintai satu sama lain Kita adalah saudara yang harus selalu hidup penuh kedamaian sebagai mana perjuangan para sultan Sekadau.( Joni )
