Tabloidnfopolri.id – Upaya awak media untuk membuka jalur komunikasi serta menjalin kemitraan yang saling menguntungkan dengan SMPN 1 Ibun Kabupaten Bandung, justru mendapat sambutan yang sangat aneh dan mencurigakan. Saat kami menghubungi pihak yang ditunjuk sebagai Humas sekolah, yaitu salah satu guru bernama Ofik, respon yang diberikan bukanlah keterangan yang jelas atau keterbukaan, melainkan penolakan keras dan keengganan untuk berbicara sepatah kata pun.

Pertanyaan besar pun melayang di udara: Ada apa sebenarnya di balik tembok sekolah ini? Kenapa sekadar berkomunikasi dan membuka akses informasi saja dianggap sesuatu yang harus dihindari seolah-olah hal terlarang?
Sebagai lembaga pendidikan yang hidup dari uang rakyat, seharusnya pintu SMPN 1 Ibun terbuka lebar, siap diawasi, siap memberikan informasi, dan siap membangun hubungan baik dengan publik maupun media. Namun sikap yang ditunjukkan Ofik justru memberikan kesan yang sangat buruk: seolah-olah ada hal yang disembunyikan, ada urusan gelap yang tak boleh diketahui orang luar, atau bahkan mereka merasa tidak perlu mempertanggungjawabkan apa pun kepada masyarakat yang membiayai mereka.
Apakah penolakan ini karena dia memang tidak paham tugasnya sebagai Humas? Atau justru karena dia sadar bahwa jika bicara, banyak hal yang akan terbongkar dan tidak akan bisa dibela lagi? Jangan menyandang jabatan sebagai jembatan informasi jika yang dilakukan malah menjadi tembok penghalang yang menutup-nutupi.
Sikap tertutup, takut berkomunikasi, dan enggan diajak bekerja sama bukanlah tanda lembaga yang bersih dan benar. Justru itu adalah tanda tanya paling besar: semakin ditutup rapat, semakin terlihat jelas bahwa mungkin saja ada sesuatu yang tidak beres, yang tidak ingin diketahui publik.
Apakah SMPN 1 Ibun hanya mau tampil cantik saat menerima anggaran dan pujian, tapi langsung menutup mulut rapat-rapat saat diminta sekadar komunikasi biasa? Apakah sekolah ini sudah merasa cukup besar dan tidak butuh publik lagi?
Kami tetap menunggu tanggapan resmi dari pihak yang benar-benar berwenang, karena jelas saja—orang yang menolak bicara ini sepertinya hanya dijadikan tameng untuk menutupi segala kekurangan dan kesalahan yang ada di dalam sana.
Masyarakat berhak tahu: apa yang sebenarnya disembunyikan di balik sikap diam dan penolakan itu?

