Tabloidinfopolri.id, Desa Pendreh , Kabupaten Barito Utara - Suasana haru, sakral, namun penuh kekeluargaan menyelimuti Desa Pendreh RT 03, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Selama lebih dari sepekan, masyarakat adat setempat melaksanakan salah satu ritual kematian tertinggi dalam agama Hindu Kaharingan, yakni *Ritual Adat Wara Tingkat Akhir.
Ritual akbar ini dilaksanakan mulai tanggal 17 hingga 25 Oktober 2026 , dipusatkan di Desa Pendreh RT 03. Wara bukanlah sekedar upacara kematian biasa, melainkan puncak penghormatan terakhir kepada para leluhur, sebuah prosesi suci untuk mengantarkan arwah menuju Lewu Tatau - surga keabadian dalam kepercayaan Kaharingan.
Bagi masyarakat Dayak penganut Hindu Kaharingan, kematian bukanlah akhir. Ada tingkatan-tingkatan ritual. Wara Tingkat Akhir adalah tingkatan paling akhir dan paling mulia.
Inti dari ritual ini adalah tradisi *membongkar kembali makam / kubur para leluhur* yang telah lama meninggal. Tulang-belulang leluhur yang telah dibersihkan kemudian akan disemayamkan kembali di tempat yang lebih layak, yaitu di Sandung atau tempat penyimpanan tulang yang sakral.
Prosesi ini dimaknai sebagai bentuk bakti seorang anak cucu kepada orang tua dan leluhurnya. Dengan dibongkar dan dibersihkan, diyakini arwah leluhur terbebas dari ikatan dunia fana dan bisa bersatu dengan Ranying Hatalla Langit, Tuhan Yang Maha Esa dalam kepercayaan Kaharingan.
Selama 9 hari pelaksanaan, berbagai prosesi adat dijalankan silih berganti, diiringi tabuhan gendang, nyanyian Karungut, dan doa-doa yang dipimpin oleh para Basir (pemuka agama Kaharingan). Seluruh keluarga besar berkumpul, bergotong royong, sebagai simbol kuatnya ikatan kekeluargaan masyarakat Dayak.
Rangkaian Ritual Wara ini tidak berhenti di tanggal 25 Oktober. Masih ada dua acara puncak yang menjadi penutup suci.
1. Ritual Basiwah - Pembersihan Diri Keluarga*
Pada tanggal 27 Oktober 2026 akan dilaksanakan Ritual Basiwah di Desa Pendreh. Basiwah adalah ritual pembersihan diri. Setelah berhari-hari berkutat dengan hal-hal kematian dan tulang belulang, keluarga penyelenggara Wara harus disucikan kembali secara spiritual. Tujuannya agar keluarga terhindar dari bala, penyakit, dan kesialan, serta kembali bersih untuk melanjutkan kehidupan sehari-hari. Ini adalah simbol keseimbangan antara dunia kematian dan kehidupan.
2. Adat Nulak Salung - Penutup dan Tolak Bala
Sebagai penutup akhir dari seluruh rangkaian panjang tersebut, pada tanggal 28 Oktober 2026, akan digelar Adat Nulak Salung. Nulak Salung adalah ritual penutup, sebagai tanda bahwa seluruh prosesi Wara telah selesai secara adat. Sekaligus sebagai ritual tolak bala untuk seluruh desa, agar setelah Wara, desa kembali aman, damai, dan dijauhkan dari marabahaya.
Ketua panitia penyelenggara yang juga tokoh adat setempat menyampaikan bahwa ritual ini terlaksana berkat gotong royong seluruh warga. "Wara ini adalah hutang adat kami kepada orang tua kami. Walaupun biayanya tidak sedikit dan waktunya lama, tapi ini wajib kami laksanakan sebagai bukti cinta kami kepada leluhur," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Ritual Wara di Desa Pendreh ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dan kepercayaan Hindu Kaharingan masih hidup, lestari, dan dijaga dengan kuat di jantung Kalimantan Tengah, di tengah arus modernisasi. Ini bukan hanya ritual, tapi juga warisan budaya tak benda yang patut dilestarikan dan dibanggakan.
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan keagungan budaya Dayak, dipersilahkan hadir dengan tetap menjaga ketertiban, kesopanan, dan kesakralan acara adat.
Penulis: (Henry. A)
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah yang pertama berdiskusi.