tabloidinfopolri.id, PENDREH, TEWEH TENGAH - Tanah Barito Utara kembali menjadi saksi hidupnya tradisi tertua di Bumi Kalimantan. Ritual Adat Wara Tingkat Akhir , sebuah upacara kematian paling agung dan sakral bagi Umat Hindu Kaharingan, dilaksanakan secara khidmat di Desa Pendreh, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara.
Ritual ini bukan tradisi baru. Menurut tetua adat, ritual Wara sudah ada sejak jaman nenek moyang dahulu kala, jauh sebelum jaman Belanda masuk ke tanah Borneo. Ritual ini terus dijaga turun-temurun sebagai jati diri orang Dayak Barito.
Rangkaian Wara kali ini dipusatkan di Desa Pendreh RT 03, dimulai , dan akan mencapai puncaknya dengan Nulak Salung serta prosesi menghanyutkan Lanting Jabing Salimat sebagai prosesi tingkat Ahir penghabisan ritual wara di bantaran Sungai Barito.
Pelaksanaan Wara tidak bisa sembarangan. Semua mantra dan prosesi suci dipimpin langsung oleh Kepala Kandong atau Kepala Wara , yakni pemuka adat tertinggi yang memegang ilmu dan mantra Wara.
Lamanya pelaksanaan Wara pun tidak sama, semua tergantung keputusan Kepala Wara. Ada ketentuan yang menyebut pelaksanaannya dua kali tujuh hari (14 hari) , tergantung dari tingkat kesakralan, jumlah leluhur yang di-Wara-kan, dan hasil musyawarah adat. Semua sudah ada pakem adatnya, 14 hari di sebut , membongkar kembali tulang belulang dari roh para pendahulu,
Dan setelah itu, acara puncak nya, di sebut juga naping jabing salimat.
Dalam prosesi tersebut, akan terdengar bahasa-bahasa ritual yang sakral, salah satunya adalah istilah Jabing Salimat.
Menurut penjelasan adat, Jabing Salimat adalah bagian dari bahasa ritual adat . Bahasa ini hanya dipahami oleh para Basir dan Kepala Wara. Dan yang paling penting, ritual Wara dengan seluruh perangkatnya termasuk Jabing Salimat ini tidak dimiliki oleh penganut agama lain, kecuali mayoritas penganut Hindu Kaharingan . Ini murni milik Kaharingan.
Setelah Wara, ritual akan dilanjutkan dengan prosesi Naping dan sebagai penutup akhir, Lanting Jabing Salimat akan dihanyutkan di Sungai Barito . Lanting adalah rakit kecil yang berisi sesajen dan perlengkapan arwah, yang dihanyutkan sebagai simbol melepas kepergian leluhur menuju Lewu Tatau, alam keabadian di seberang tahik syorga loka. Sungai Barito menjadi saksi bisu perjalanan suci para roh leluhur tersebut.
Di tengah kesakralan acara, muncul penegasan keras dari panitia pelaksana.
Staf pengurus adat sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Wara, Bapak Sito , menegaskan kepada awak media bahwa ritual yang mereka gelar adalah murni sakral.
"Kami melaksanakan ritual adat Wara, tidak pernah untuk bisnis, tidak pernah untuk menipu pihak lain. Kami melaksanakan acara adat ini sakral, dan kami ditinjau langsung oleh Wakil Bupati, dipantau terus dari kepolisian," ujar Pak Sito dengan tegas.
Penegasan ini penting untuk menjaga marwah adat agar tidak disalahgunakan.
Senada dengan itu, dalam acara penusukan kerbau yang menjadi bagian dari ritual Wara, pihak jajaran Polres Barito Utara juga memberikan himbauan keras.
Pihak kepolisian mengimbau agar pelaksanaan ritual adat Wara jangan dijadikan kedok atau topeng untuk bisnis terselubung. Terutama praktik membuka (Riek Liau) yang hanya sekedar arena judi sebebas-bebasnya dengan mengatasnamakan ritual adat Wara.
Jajaran Polres menegaskan," adat Wara adalah budaya yang harus dihormati dan dilindungi, bukan dijadikan ajang perjudian yang tanpa ada Ijin lengkap serta meresahkan masyarakat dan melanggar hukum. Aparat akan terus melakukan pemantauan hingga rangkaian acara selesai, yakni hingga Basiwah dan Nulak Salung .
Dengan peninjauan awal dari Wakil Bupati Barito Utara dan pantauan jajaran kepolisian, diharapkan Ritual Wara di Desa Pendreh ini berjalan aman, khidmat, dan benar-benar menjadi persembahan tulus kepada leluhur, bukan ajang mencari keuntungan pribadi.
Ritual Wara adalah bukti bahwa Hindu Kaharingan masih berdiri tegak, menjadi penjaga adat istiadat budaya para leluhur yang tidak bisa di hilangkan dengan cuma cuma.
Penulis: (Henry,A)
Belum ada komentar yang disetujui. Jadilah yang pertama berdiskusi.