August 28, 2026

Ketika Tambang Pergi, Luka di Bakungan Belum Juga Sembuh

tabloidinfopolri.id – Beberapa tahun lalu, sebuah perusahaan tambang batu bara bernama PT MHU membuka kegiatan penambangan tidak jauh dari rumah-rumah warga RT 6, Desa Bakungan. Kini, kegiatan itu sudah lama berhenti. Alat-alat berat sudah tidak lagi terdengar meraung setiap pagi, dan lubang-lubang bekas galian dibiarkan begitu saja. Tetapi bagi warga yang tinggal di sekitarnya, cerita belum selesai. Rumah mereka masih basah setiap kali hujan turun, sawah mereka masih tergeletak tak digarap, dan kebun yang dulu rimbun kini menyisakan batang-batang pohon yang mati berdiri.

Perubahan itu dimulai perlahan, hampir tak disadari. Erosi dari lahan bekas tambang membawa lumpur turun ke arah pemukiman, mengendap sedikit demi sedikit di sekitar rumah warga. Tanpa disadari, permukaan tanah di luar rumah perlahan naik, sementara kolong rumah warga yang dibangun panggung menjadi terasa semakin rendah. Yang dulunya jarang kebanjiran, kini setiap hujan agak deras, air bercampur lumpur naik dan menggenangi lantai rumah.

Bagi warga yang mampu, ada jalan keluar meski dengan biaya tidak sedikit: rumah mereka diangkat, ditinggikan, agar air tidak lagi masuk. Tetapi bagi warga yang tidak memiliki biaya untuk itu, tidak ada pilihan selain membiarkan air masuk setiap kali hujan lebat datang, lalu membersihkan lumpur yang tertinggal begitu air surut. Rumah-rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu pun perlahan lapuk di bagian lantai dan dindingnya, karena terlalu sering terendam. Sekali lagi, yang mampu mengganti kayunya dengan material baru. Yang tidak mampu, hanya bisa tinggal di rumah yang perlahan rapuh.

Kerugian tidak berhenti di dinding rumah. Halaman yang dulu ditanami sayur untuk kebutuhan dapur sehari-hari, kini tidak lagi bisa ditanami apa-apa. Ayam kampung yang biasa dipelihara warga di pekarangan pun ikut jadi korban — setiap kali halaman tergenang, anak-anak ayam yang masih kecil banyak yang hanyut terbawa air dan mati. Lama-kelamaan, ternak yang dulu jadi sumber penghasilan tambahan warga habis begitu saja.

Sawah bernasib serupa. Tahun pertama sejak tambang mulai beroperasi, lumpur mulai menutupi petak-petak sawah dan hasil panen menurun. Tahun-tahun berikutnya keadaan makin parah, hingga empat tahun berturut-turut warga gagal panen sama sekali. Akhirnya sawah itu dibiarkan, tidak lagi digarap, karena dianggap sudah tidak mungkin lagi menghasilkan.

Nasib kebun tak jauh berbeda. Pohon-pohon yang selama ini jadi andalan warga — karet, durian, rambutan, cempedak, elai, hingga petai — satu demi satu ikut mati. Kebun mereka kerap terendam banjir, kadang sampai dua hari lebih setiap kali air datang. Genangan yang berulang ini pelan-pelan membunuh tanaman, baik yang sudah berbuah maupun yang masih muda. Ada pohon yang masih berdiri tegak tetapi sebenarnya sudah mati kering dari dalam. Ada yang tumbang sendiri karena akarnya membusuk terendam air. Dan ada yang akhirnya ditebang serta dibakar oleh pemiliknya sendiri, karena tidak ada lagi harapan pohon itu bisa diselamatkan.

Kehilangan sawah dan kebun ini memaksa warga, yang sebagian besar hidup dari bertani dan berladang, mencari lahan baru. Karena lahan di sekitar rumah sudah tidak bisa diandalkan, mereka kini harus pergi jauh ke kawasan hutan untuk bisa terus bertani. Setiap hari mereka pulang-pergi ke lahan yang jauh itu, dan itu berarti ada pengeluaran baru yang dulu tidak pernah ada — biaya bahan bakar kendaraan, yang sekarang menjadi beban tambahan dalam hidup mereka.

Kini, bertahun-tahun setelah alat berat itu pergi, warga RT 6 Desa Bakungan masih menjalani hidup dengan bekas-bekas yang ditinggalkan tambang: rumah yang rapuh atau ditinggikan dengan susah payah, pekarangan yang mandul, kandang ayam yang kosong, sawah yang dibiarkan, dan kebun yang tinggal batang-batang mati. Bagi mereka, tambang mungkin sudah lama tutup. Tetapi dampaknya masih mereka rasakan setiap kali hujan turun, setiap kali melihat lahan yang dulu subur kini tak lagi bisa diandalkan.

Kisah ini disusun berdasarkan penuturan warga RT 6 Desa Bakungan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Lingkungan (FKMPL).

(Hendra Sitorus)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top